Most traders are aware of the two widely known approaches used to analyze a market, fundamental analysis and technical analysis. Many different methods can be used in each approach, but generally speaking fundamental analysis is concerned with the question of why something in the market will happen, and technical analysis attempts to answer the question of when something will happen.
There is, however, a third approach to analyzing a market. It combines the best of both fundamental and technical analysis into a singular approach that answers both questions of “why” and “when” simultaneously; this methodology is called volume spread analysis. The focus of this article is to introduce this methodology to the trading community, to outline its history, to define the markets and timeframes it works in, and to describe why it works so well.
What is Volume Spread Analysis?
Volume spread analysis (VSA) seeks to establish the cause of price movements. The “cause” is quite simply the imbalance between supply and demand in the market, which is created by the activity of professional operators (smart money). Who are these professional operators? In any business where there is money involved and profits to make, there are professionals. There are professional car dealers, diamond merchants and art dealers as well as many others in unrelated industries. All of these professionals have one thing in mind; they need to make a profit from a price difference to stay in business. The financial markets are no different. Doctors are collectively known as professionals, but they specialize in certain areas of medicine; the financial markets have professionals that specialize in certain instruments as well: stocks, grains, forex, etc.
The activity of these professional operators, and more important, their true intentions, are clearly shown on a price chart if the trader knows how to read them. VSA looks at the interrelationship between three variables on the chart in order to determine the balance of supply and demand as well as the probable near term direction of the market. These variables are the amount of volume on a price bar, the price spread or range of that bar (do not confuse this with the bid/ask spread), and the closing price on the spread of that bar (see Figure 1). Continue reading…
Tags: A Long and Proven Pedigree, A Universal Approach, Don’t Be Part of the Herd, VSA at Work, What is Volume Spread Analysis?, Why it Works
Posted by administrator
on November 09, 2010
ECB /
No Comments
Dollar terkapar menyusul keputusan the Fed mengucurkan stimulus moneter untuk membeli surat utang pemerintah. Fokus pasar kini tertuju ke BOE dan ECB.
The Fed mengumumkan akan membeli $600 miliar obligasi pemerintah AS, atau Treasury sampai pertengahan tahun depan sebagai upaya untuk menjaga pemulihan ekonomi. Jumlah itu sedikit lebih besar dari prediksi $500 miliar. The Fed juga membuka kemungkinan pembelian tambahan, selaras dengan perkembangan ekonomi.
Pengumuman itu berdampak langsung ke dollar, terjungkal ke level terendah dalam 28 tahun terakhir terhadap aussie. Sterling berhasil menggapai level tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Sedangkan euro semakin mantap di kisaran $1,41.
Selain itu, keputusan itu akan bearish ke dollar untuk jangka waktu yang cukup lama. Ada kalangan yang melihat program Quantitative Easing (QE) yang dijalankan the Fed sebagai lampu hijau untuk menggunakan dollar sebagai carry trade untuk membeli aset lain, seperti komoditas dan mata uang berisiko.
Namun, karena jumlah QE yang tidak mencapai $1 triliun, pelemahan dollar juga tidak akan seburuk perkiraan. Meski trennya belum berubah, kejatuhan dollar tidak akan sebesar bila the Fed benar-benar agresif. Diperlukan waktu agar dollar bisa berubah tren.
Dalam jangka pendek, beberapa mata uang sepertinya sudah menguat amat tajam. Hal ini membuka peluang koreksi. Seperti aussie, yang sudah mencapai paritas dollar. Euro pun juga mulai tersendat.
Setelah the Fed, masih ada even penting minggu ini yang dapat menggerakkan pasar. Untuk hari ini adalah hasil rapat reguler BOE dan ECB. Kinerja ekonomi Inggris yang lebih baik dari prediksi menyurutkan spekulasi BOE akan melanjutkan QE-nya. Namun, prospek ekonomi yang kurang baik tetap membuka kemungkinan BOE akan mengikuti langkah the Fed.
Sedangkan ECB diperkirakan tidak akan memutuskan apapun, jadi pasar terfokus pada pernyataan Presidennya Jean-Claude Trichet. Bila ia bersikap positif, atau bahkan hawkish, euro paling tidak bertahan. Euro bisa terkoreksi bila ia bersikap dovish. Continue reading…
Tags: Fokus pasar kini tertuju ke BOE dan ECB, pernyataan Presidennya Jean-Claude Trichet
Average Directional Index Movement (ADX), yang dikembangkan oleh J. Welles Wilder, adalah indikator yang digunakan untuk mengetahui kapan pasar trending, seberapa kuat atau lemah trend itu dan kapan tren kemungkinan dimulai atau berakhir.
Indikator ini hanya menghitung kekuatan tren, terlepas naik atau turun. Indikator ini memungkinkan menganalisis kecenderungan pasar dan membuat keputusan perdagangan di pasar Forex.
ADX biasanya terlampir dalam grafik beriringan dengan dua garis yang disebut dengan Directional Movement Indicators (DMI). ADX sendiri merupakan rata-rata dari kedua garis tersebut.
Pertama adalah garis +D, yang mencerminkan seberapa kuat atau lemah uptrend dalam pasar. Kedua adalah garis –D, yang menggambarkan seberapa kuat atau lemah downtrend. Garis ADX merupakan gabungan dari +D dan –D, namun tidak menunjukan apakah pasar sedang uptrend atau downtrend, hanya kekuatan dari keseluruhan trend.
Seperti yang telah disebutkan, ADX mengukur kekuatan suatu trend. Dalam pengukurannya, ketiga garis di atas bergerak dalam rentang 0 dan 100. Namun, perancangnya menetapkan 60 dan 20 sebagai batas ekstrim. Bila garis ADX bergerak di atas 40 dan terus menanjak, mengindikasikan bahwa tren yang sedang berjalan cukup kuat, terlepas uptrend atau downtrend. Bila garis itu bergerak di bawah 20, maka mengindikasikan trend lemah dan pasar dalam kondisi ranging.

Karena ADX mengukur kekuatan trend, maka trader menggunakan indikator ini sebagai konfirmasi apakah pasar sedang dalam trend, dan menghindari periode ranging dalam pasar, kondisi yang sulit untuk mendapatkan profit. Selain itu, dalam situasi ketika garis ADX bergerak di bawah 20, perancang menyarankan tidak trading trend based strategi ketika garis ADX di bawah kedua garis +D dan –D.
Contoh ketika garis ADX di bawah +D dan –D Continue reading…
Tags: Contoh Crossover dalam ADX, Contoh indikator ADX, Contoh ketika garis ADX di bawah +D dan –D, Contoh sinyal perubahan trend dalam ADX, Definisi Average Directional Index Movement (ADX), Directional Movement Indicators (DMI), mengidentifikasi potensi awal trend baru dalam pasar
Posted by administrator
on November 09, 2010
Fractal dan Alligator /
No Comments
Secara Ilmiah, kata Fractal dapat diartikan sebagai sebuah fragmen berbentuk geometris yang dapat dipecah menjadi lebih kecil dengan bentuk relative sama atau serupa. Definisi ini pertama kali ditemukan oleh ilmuan Benoit Mandelbrot pada tahun 1975. Sebenarnya konsep fractal ini sebelum ditemukan, analisa teknikal sedah menggunakan prisip dasarnya. Terutama melalui teori Elliot Wave pada tahun 1930-an.
Fractal disini adalah salah satu dari lima indicator yang di perkenalkan oleh Bill Williams. Indikator ini berfungsi untuk memberikan gambaran alternative tentang titik puncak (top) atau dasar (bottom) dan pergerakan harga suatu instrument pada periode tertentu.
Pada pembahasan ini, definisi sederhana dari fractal naik adalah bar yang memiliki high tertinggi, diapit oleh minimal dua bar ber-high lebih rendah. Demikian berlaku sebaliknya untuk fractal turun. Fractal-fractal yang terbentuk pada titik tertinggi atau titik terendah akan diberikan tanda anak panah.
Penggunaan Fractal
Penggunaan trading adalah dengan mengambil posisi sesuai arah breakout fractal. Jika harga bergerak melewati fractal naik, maka posisi yang diambil adalah buy. Sebaliknya jika harga bergerak melewati fractal turun, maka posisi yang diambil adala Sell. Akan tetapi tidak seluruh fractal dapat dijadikan sinyal. Hanya fractal yang dilalui oleh fractal lain dengan arah yang berlawanan saja yang dapat dijadikan sebagai sinyal. Fractal ada juga yang berjenis start, yakni fractal yang menjadi titik awal fractal sinyal. Dengan kata lain fractal yang selalu disusul dengan fractal lain yang berlawanan arah. Sehingga Fractal Start juga dapat digunakan sebagai penempatan Stop Loss.
Filter Alligator
Penggunaan Fractal sebagai sinyal harus di konfirmasikan dengan alligator sebagai filter. Jika Fractal buy lebih tinggi dari alligator’s teeth (garis yg berada di tengah pada indicator alligator), maka posisi buy diambil beberapa tick diatas fractal buy. Dan apabila fractal lebih rendah dari alligator’s teeth, maka transaksi sell sebaiknya diambil beberapa tick dibawah fractal sell. Karena setelah sinyal fractal terbentuk, maka ia akan bertahan sebagai sinyal sehingga terjadi failure atau fractal selanjutnya terbentuk.

Tags: Definisi Fractal, Filter Alligator, Penggunaan Fractal, teori Elliot Wave